Umrah Dan Haji Sebagai Penebus Dosa
31-August-2018

 

Banyak dari kaum muslimin tidak memahami hakikat dan keistimewaan hari Jum’at. Hari yang selalu kita lewati setiap pekan ini kadang belalu begitu saja. Tanpa ada perhatian yang berarti dari kita. Padahal hari Jum’at adalah hari raya bagi kita kaum Muslimin. Dijadikan hari raya karena memiliki banyak keutamaan. Keutamaan yang tidak pernah lekang dengan berlalunya waktu dan zaman. Lalu bagaimana sejarah penamaan hari Jum’at ?

Sebab Penamaan Hari Jum’at

Hari Jumat adalah hari yang paling mulia dalam satu pekan. Di zaman jahiliah hari Jumat lebih dikenal dengan sebutan al ‘Arubah [ العَروبة ].

Secara bahasa Jum’at bermakna sesuatu yang menunjukkan berkumpulnya satu hal. Disebut hari jum’at karena orang-orang yang jumlahnya banyak berkumpul pada hari itu. (al Nihayah: 1/297)

Sedangkan menurut istilah Jumat bermakna salah satu hari dalam sepekan dimana pada hari itu dilaksanakan shalat Jumat yang memiliki kekhususan. Dimana shalat tersebut dilaksanakan di siang hari menggantikan sholat Dhuhur, dikerjakan dengan dua raka’at dan menjaharkan/mengeraskan suara.

Namun kenapa dinamakan sholat Jumat ?

Tentang penamaan hari Jum’at, maka disini ada silang pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan Karena pada hari itu dikumpulkan penciptaan seluruh makhluk. Ada juga yang mengatakan Karena pada hari itu manusia berkumpul untuk melaksanakan shalat. Ada pula yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa bertemu pada hari itu. Pendapat yang paling kuat yang disebutkan oleh al-hafidz Ibnu Hajar al-asqalani rahimahullah di dalam Fathul Bari bahwa hari itu dinamakan dengan hari Jumat karena pada hari itu penciptaan Adam dikumpulkan atau disempurnakan [Lihat Fathul Bari: 2/353].

Di zaman Jahiliyah ka’ab Bin luay biasa mengumpulkan kaumnya pada hari itu (hari Jumat) kemudian memberikan nasehat mengingatkan dan memerintahkan kaum nya untuk mengagungkan tanah haram (mekah).

Maka jelaslah bahwa hari Jum’at belum dikenal pada zaman jahiliyah. Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm rahimahullah, “bahwa jum’at adalah nama Islami yang tidak dikenal pada masa jahiliyah. Pada masa itu, hari Jum’at dinamakan dengan al-‘arubah.” (Fathul Baari: 3/275 dari Maktabah Syamilah)

Jum’at Itu Adalah Hari Raya

Tahukah anda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya kaum muslimin.

Sehingga sepantasnya seorang muslim mempersiapkan diri dan meramaikan hari raya mereka dengan cara beribadah kepada Allah sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Sesungguhnya hari ini (Jum’at) Allah menjadikannya sebagai hari raya bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang menghadiri shalat Jum’at hendaknya mandi, jika ia memiliki wangi-wangian, maka hendaknya dia memakainya dan bersiwaklah” (HR. Ibnu Majah dan haditsnya dinyatakan hasan oleh Al Albani)